• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Privacy Policy

Bersyahadah di Dalam Bis Kota

 

*HidayahAllah tak mengenal tempat dan waktu. Sampai-sampai membuat gadis
Amerika ini bersyahadat di atas Bus Kota. Masya Allah! *

*Hidayatullah.com--*Halimah David kini namanya. Dia memeluk Islam tahun
2001 silam. Awalnya, semasa masih remaja, gadis Amerika ini hidup di tengah
nuansa Katolik yang kental dibawah bimbingan sang ayah. Namun beranjak
dewasa dia melihat ada kontradiksi dalam Kristen. Dia pun mulai mencari
kebenaran dengan mendalami berbagai agama, termasuk Islam. Dalam satu
perjalanan dengan bus dari Michigan ke Colorado, untuk melanjutkan kuliah
di kedokteran, dia berjumpa dengan seorang pemuda muslim asal Afrika. Dari
situlah dia kenal Islam. Dan, menariknya di atas bis antar kota itu juga
dia bersyahadah. Masya Allah, hidayah-Nya tak kenal tempat dan waktu.
Alhasil, dia justru tertarik belajar Islam ketimbang melanjutkan studi
kedokteran. Berikut kisah Halimah, yang setelah menikah memilih tinggal di
rumah, mendidik anak sembari menulis buku dan juga mengasuh website Islam.

*000*

"Aku dibesarkan dalam keluarga Kristen taat. Ayahku senantiasa memberi
petuah Kristen semasa membesarkanku. Dia berusaha keras mengajariku
nilai-nilai Kristen," kata Halimah David tentang latar belakang keluarganya.

"Aku banyak membaca Bibel di saat masih duduk di sekolah dasar dan
mengamati sekilas ada hal yang kontradiksi di sana (missal: masalah babi).
Memasuki usia 12 tahun, aku makin mengerti dan Kristen makin jauh dari
hidup. Tapi aku sendiri tidak tahu apa yang musti kulakukan. Aku terus
mencari dan mencari, siapa tuhanku yang sebenarnya. Berdoa agar ditunjukkan
pintu kebenaran itu. Jujur, aku benar-benar bekerja keras untuk hal ini,"
kata dia.

Halimah menyimpan segudang pertanyaan dalam kepalanya: "Kenapa ada manusia
di dunia?" atau "Untuk tujuan apa manusia diturunkan?"

Halimah berpikir dengan sistem yang begitu komplek, misal bagaimana manusia
diciptakan, lalu bumi diciptakan untuk manusia, tentu ada Maha Pencipta di
balik semua itu. Semisal benda, pasti ada desainernya. Atau, tatkala
seseorang jalan-jalan di pantai lalu meninggalkan jejaknya di pasir. Maka
pasti yang melihat akan menduga ada orang yang baru melewati jalan itu
sebelumnya.

"Memasuki usia ke-19, itulah saat-saat yang kritis dalam masa pencarianku.
Aku banyak mengadakan perjalanan ke berbagai tempat guna melihat aneka
budaya setempat. Ini juga bagian dari proses pencarian tuhan. Kuamati
ajaran Taoisme, Budha, Yahudi, Freemansory, Hindu, Animisme, serta banyak
lainnya lagi. Tentu saja ajaran Kristen juga jadi bahan pembanding. Aku
juga mempelajari Islam melalui literatur yang ada. Kala itu hanya satu dua
halaman saja yang kupelajari. Sekilas saja, aku tidak begitu tertarik
mempelajarinya lebih jauh. Kuamati Islam menyembah Allah, lalu Muhammad
Nabi mereka. Itu saja. Lalu mereka shalat lima kali sehari. Apa, lima kali
sehari!?," tukas dia lagi.

"Ketika itu aku mulai berpikir, ah masa sampai sebegitu banyaknya. Kapan
pergi kerja, kuliah kalau sebegitu banyak musti ibadah saban hari. Begitu
hatiku membatin. Waktu berlalu, aku kembali ke Amerika lagi. Usiaku sudah
21 tahun. Aku masih belum puas dengan semua agama yang telah kupelajari,"
kata dia heran.

Waktu terus berjalan hingga dia memutuskan untuk kuliah dan diterima di
jurusan kedokteran di Universitas Colorado. Menjadi dokter memang impiannya
sejak lama. "Konsekuensinya, aku harus pindah dari Michigan ke Colorado.
Tak apa-apa demi masa depan," ujarnya.

Saat hari-H, Halimah menggunakan bus umum Greyhound dari Michigan ke
Colorado. Perjalanan sedikit panjang dan membosankan. Syukurnya sepanjang
perjalanan itu dia punya teman ngobrol dengan seorang pemuda yang
dikenalnya dalam bus. Anak muda yang duduk persis di belakangnya. Ternyata
dia juga hendak ke Colorado untuk melanjutkan kuliah.

"Namanya Ibrahim, asal dari Afrika. Dia ke Colorado untuk kuliah di jurusan
teknik. Kamipun mulai akrab dan ngobrol ke sana kemari untuk menghilangkan
rasa jenuh di perjalanan," kata Halimah.

Yang bikin Halimah tertarik adalah tatkala Ibrahim menyebut dirinya seorang
muslim. "Aku tanya apa itu Islam dan dia cerita orang Islam percaya hanya
satu Tuhan yaitu Allah dan Muhammad utusan-Nya. Dia cerita juga bahwa Nabi
Muhammad adalah Nabi terakhir dan tak ada diturunkan Nabi lagi setelahnya.
Aku makin tertarik," imbuh Halimah.

"Aku simpulkan bahwa ajaran Yahudi berada di belakang dua Nabi, yakni Nabi
Isa dan Muhammad. Dan, ajaran Kristen yang dibawa Nabi Isa berada di
belakang Islam yang dibawa Nabi Muhammad," tukasnya. Halimah seakan merasa
melihat secercah kebenaran dalam Islam. Ibrahim pun menghadiahinya sebuah
buku kecil berisi kumpulan zikir dan doa yang merupakan senjata orang
mukmin. Halimah sempat membaca salah satu bagian dari buku itu yang
berbunyi:

"Tak ada satu pun yang patut disembah kecuali Allah. Allah satu dan tak
bersekutu. Dia Maha Pemilik yang memiliki segala-galanya dan dia Maha
Terpuji. Dialah yang Maha Berkuasa atas segala-galanya."

Berawal dari situlah Aminah melihat Islam adalah agama yang sedikit lebih
masuk akal dan mudah dimengerti dari sekian agama yang pernah
dipelajarinya. Halimah lalu membaca lagi isi buku pemberian Ibrahim itu
untuk mendapat petunjuk siapa itu Allah. Dia temukan kalimat lain berbunyi:

"Dengan nama Allah, tak ada sesuatu pun bisa memberikan manfaat dan
mudharat baik di dunia maupun di akherat, kecuali dengan seizin Allah. Dia
Maha Mendengar dan lagi Maha Mengetahui."

"Ya Allah, segala keberkahan telah banyak kami terima dari Engkau yang Maha
Pencipta. Engkau tidak bersekutu. Segala puji hanya bagi-Mu. Terima kasih
ya Allah."

"Seketika itu lalu aku menoleh pada Ibrahim dan menanyakannya bagaimana
caranya menjadi orang Islam. Dia menyebut aku musti bersyahadah. Dia bilang
setiap yang mau masuk Islam musti mengucap duaa kalimah: *La ilaha illa
llaah Muhammadur Rasuulullah.* Hanya itu? Aku lalu dituntunnya untuk
mengucap kalimat Syahadah itu. Aku pun bersyahadah saat itu juga. Ya di
dalam bus Greyhound, antara Michigan dan Colorado, aku telah jadi seorang
muslimah!," kenangnya.

"*Subhanallah!* Setelah berbincang-bincang hanya sekitar lima belas menit
dengan Ibrahim aku menjadi seorang muslim. Inilah cerita tujuh tahun yang
lalu," ujar Halimah memuji Allah. Dia mengaku sangat terkesan dengan kisah
keislamannya akhir tahun 2001 silam itu.

Selanjutnya, dengan serta merta dia membatalkan perjalanannya ke Colorado.
"Aku tidak melanjutkan sekolah kedokteran. Aku putuskan untuk menghabiskan
waktu untuk mempelajari agama yang baru kukenal itu," kata dia lagi.

Lalu Halimah pun pindah ke Utah. Di sana dia menemukan banyak muslim dan
mereka sangat gembira serta menyambut Halimah dengan hangat dan
mengenalkannya pada komunitas muslim setempat. Disanalah dia menghabiskan
waktu untuk mempelajari Islam secara serius dan sungguh-sungguh.

"Begitulah, setelah mengikuti berbagai kajian Islam, ada beberapa hal yang
menurutku sangat penting, yakni: Musti ada Sang Pencipta, karena di dalam
kehidupan nyata ada benda-benda ciptaan. Bukti bahwa Tuhan itu ada
ditunjukkan melalui kumpulan orang-orang yang berkumpul dan beribadah
karena merasa ada "kebutuhan" yang bersifat spiritual. Ini terlihat dari
adanya aneka ragam agama dan pemeluknya," ungkapnya.

"Begitupun, kita musti mengikuti agama yang meyakini hanya satu tuhan.
Karena, jika ada lebih dari satu tuhan maka otomatis akan sangat komplek
dan akan terjadi chaos antara sesama tuhan. Logikanya begitu.
Konsekuensinya, semua manusia bertanggungjawab untuk percaya dan yakin
kepada Tuhan yang terpatri di dalam setiap diri dan jiwa mereka," pungkas
dia.

"Karena itulah dasar dari dilahirkan manusia ini, untuk mengabdi kepada
Sang Penciptanya. Seperti termaktub di Surah Azzariyat ayat 56: "Aku
menciptakan jin dan manusia hanya untuk mengabdi kepada-Ku.", imbuhnya.
Jadi saya rasa Islam hadir untuk menggantikan ajaran Kristen yang telah
berbelok arah dengan ajaran Trinitasnya, Satu dalam tiga, Itu sangat tidak
rasional.

Halimah juga mendapat hal menarik lain tentang Tuhan di dalam Islam, bahwa
jika seseorang manusia tidak mau beribadah kepada-Nya, maka kekayaan-Nya
tidak akan berkurang. Sebaliknya jika semua manusia beribadah kepada-Nya,
maka kekayaan-Nya juga tidak bertambah gara-garanya hamba-Nya menyembah
Dia. Allah itu Maha Sempurna. Dia tak butuh kepada benda-benda, tapi semua
benda-benda ciptaan-Nya butuh, itu sebabnya semua umat manusia butuh untuk
beribadah kepada-Nya.

"Inilah yang makin memantapkan hati saya untuk terus berada dalam agama
yang sangat saya cintai ini. Islam sudah sangat sempurna," tutupnya.
Halimah kini telah menikah dan memilih tinggal di rumah untuk mendidik
anak-anaknya. Dia juga menulis buku-buku Islam khusus untuk anak-anak. Tak
hanya itu waktunya juga diisi dengan mengasuh tiga website Islam. Salah
satunya khusus membahas etika bisnis di dalam Islam. Begitulah.

sumber: hidayatullah.com

Bersyahadah di Dalam Bis Kota 4.5 5 langit biru *HidayahAllah tak mengenal tempat dan waktu. Sampai-sampai membuat gadis Amerika ini bersyahadat di atas Bus Kota . Masya Allah! * *...


No comments:

Post a Comment

J-Theme